Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 7

HAPPY READING

***

Keesokan harinya,

Sebenarnya ia tidak mau ikut campur urusan masa lalu antara dirinya dengan Raisa, namun tetap saia ia tidak bisa tenang jika seperti ini, seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang belum dituntaskan. Semalam ia sulit tidur memikirkan nama Angel memenuhi isi kepalanya. Angel? Siapa Angel? Kenapa nama itu seolah tidak lepas dari ingatannya. Umurnya berapa sekarang? Preschool itu umur berapa? Tiga tahun? Atau empat tahun? Ia masih ingat kata-kata Raisa, Angel sekolah di Preschool The Independent School Of Jakarta. Jika Raisa sudah memiliki anak? Siapa suami Raisa sebenarnya?

Tobias memejamkan mata beberapa detik, kepalanya benar-benar mau pecah, apa ia harus bertemu dengan Raisa? Ya, mereka harus bertatap muka, membicarakan tentang kehidupan. Ia melirik jam melingkar di tangannya menunjukan pukul 07.10 menit.

Syaraf otaknya bekerja dengan sangat baik, ia harus menelfon Christie menanyakan alamat rumah Raisa. Ia mengambil kartu nama yang ada di atas meja, sepertinya Christie tahu tentang kehidupan Raisa, karena mereka partner kerja yang lumayan lama.

Tobias tahu kalau ia mengambil resiko yang sangat besar, jika Pevita tahu kalau ia mencari informasi tentang Raisa. Mungkin ketika ketahuan nanti akan menyakiti hari Pevita calon istrinya, namun ia tetap saja ia tidak tenang. Jika seperti ini terus-terusan, yang ada ia akan stress sendiri, karena memikirkan ini berlarut-larut.

Tobias mengambil cangkir berisi teh hangat, ia menyesapnya secara perlahan. Ia lalu menekan nomor Christie pada ponselnya, ia menunggu hingga sang pemilik ponsel mengangkat panggilannya. Beberapa detik kemudian ponselpun terangkat.

“Iya, halo,” ucap seorang wanita dibalik speaker ponselnya.

“Halo, selamat pagi ibu Christie. Maaf mengganggu pagi anda, saya Tobias, klien ibu Raisa kemarin,” ucap Tobias tenang.

“Oh, pak Tobias. Ada yang bisa saya bantu pak?”

“Begini, apa saya bisa minta alamat rumahnya ibu Raisa?”

“Untuk keperluan wedding ya pak?”

Tobias menyungging senyum, “Iya, biar sama-sama enak dan sama-sama tahu alamatnya di mana.”

“Nanti saya kirim lewat whatsapp ya pak.”

“Iya ibu Christie, terima kasih sudah merepotkan anda.”

“Tidak apa-apa pak Tobias. Saya kirim sekarang.”

“Terima kasih.”

Tobias mematikan sambungan telfonnya. Ia melihat ke arah layar ponselnya, sebuah notifikasi masuk dari nomornya Christie. Wanita itu mengirim alamat lengkap Raisa, ia melihat lebih lanjut alamat yang ada di sana. Ternyata selama ini Raisa tinggal di Permata Hijau.

Tobias lalu mengarahkan alamat itu ke google maps dan ia mendapatkan apa yang ia cari. Raisa dulu tinggal di apartemen Senopaty, lalu sekarang dia memilih move ke Permata Hijau. Tobias beranjak dari duduknya, ia membawa tas kerjanya. Ia melihat bibi sedang mengepel lantai di dekat kolam.

Tobias keluar dari rumah menuju plataran, ia tahu ini masih pagi untuk dirinya pergi ke kantor. Namun ia tidak akan ke kantor, melainkan ke rumah Raisa terlebih dahulu. Mereka perlu bicara berdua. Ia ingin tahu kehidupan wanita itu. Lagian rumahnya dan rumah Raisa tidak terlalu jauh dari rumah Raisa.

Andai ia tahu Raisa tinggal di Permata Hijau, mungkin mereka sering bertemu, entah itu ia sengaja atau tidak. Jika dulu ia masih single belum menjalin hubungan dengan wanita lain, mengetahui Raisa tinggal di sana, mungkin ia punya seribu cara bagaimana untuk mereka dekat kembali.

Tobias masuk ke dalam mobilnya, ia menghidupkan mesin beberapa menit. Setelah itu mobil bergerak meju ke depan membelah jalan. Ia menatap kedua tangannya yang kosong, dan berpikir ia tidak seharusnya membawa bunga untuknya, oke mungkin bukan bunga karena itu terlalu berlebihan untuk hubungan yang sudah kandas, mereka hanya masa lalu. Tapi setidaknya ia harus menghargai kunjungannya.

***

Beberapa menit kemudian akhirnya ia tiba di komplek perumahan Raisa, ia mengobservasi rumah itu dengan seksama. Rumah berpagar rendah, memiliki dua lantai dengan bangunan yang di dominasi warna putih. Rumahnya terlihat asri namun tidak terlalu besar seperti rumahnya. Ia baru tahu ternyata inilah rumah yang selama Raisa tinggali. Ia melihat garasi ada dua mobil, ia menatap plat mobil millik Raisa yang dia gunakan kemarin.

Tatapannya tertuju pada sosok baby sitter dan seorang balita yang masuk ke dalam mobil, di susul oleh Raisa di sana. Dia mengenakan dress berwarna coklat muda dengan rambut yang diikat ke belakang sambil membawa handbag. Akhirnnya ia tahu bahwa Raisa benar-benar memiliki anak, namun dia mengantar anaknya sendiri tidak bersama suaminya. Kebanyakan orang di luar sana, pasti mengantar anaknya ke sekolah bersama suami namun ini justru sendiri.

Mobil itu keluar dari garasi mobil, dan pergi meninggalkan area rumah. Sepertinya Raisa tidak menyadari bahwa ia mengikutinya. Tobias tahu kalau mobil Raisa mengarah ke sekolah Angel, yang terletak di jalan TB Simatupang, Kebayoran Lama Jakarta selatan.

Sementara di sisi lain Raisa tahu kalau ada seseorang mengikutinya. Yang ia yakini hanya satu yaitu Tobias yang berada di belakangnya. Ia berusaha setenang mungkin karena di sini ada Angel dan mbak. Ia tidak mau mereka panik karena kehadiran pria itu.

Akhirnya ia tiba di depan sekolah Angel, ia melihat mobil yang mengikutinya tadi berada tepat di belakangnya. Ia keluar dari mobil, ia melihat ke belakang menatap Tobias. Ia berusaha setenang mungkin karena di sini ada Angel dan mbak. Pria itu tanpa senyum dan lalu keluar dari mobil, jantungnya lalu maraton hebat. Tangannya sudah sedingin es dan keringat dinginnya keluar,

“Morning Ra.”

Raisa terdiam beberapa detik, ketika pria itu menyapanya. Ia memperhatikan Tobias, pria itu mengenakan kemeja hitam dan celana berwarna senda, rambutnya di sisir rapi, wajahnya tanpa senyum menatapnya. Oh Tuhan, apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ia tidak tahu prihal apa Tobias mengikutinya hingga ke sekolah Angel. Apa dia tahu kalau Angel anak nya? Apa yang harus ia lakukan setelah ini.

“Ngapain kamu ke sini?” Tanya Raisa, sejujurnya ia nervous luar biasa, sepertinya ia perlu obat penenang, ia seperti terkena serangan jantung berhadapan dengan Tobias.

Tobias menyungging senyum, “Menemui kamu dan Angel, kebetulan saya ingin pergi kerja, apa salahnya menyapa sebentar.”

Jantung Raisa rasanya ingin keluar saat ini juga, ketika mbak dan Angel keluar dari mobil. Otomatis ia dan Tobias melihat mereka. Tobias memperhatikan seorang balita mengenakan seragam sekolah. Rambutnya diikat ke belakang, dengan tubuh yang sehat. Ia memperhatikan wajah balita itu dengan intens, entah kenapa ia merasa kalau wajah balita itu cenderung mirip seperti dirinya. Mulai dari mata, hidung, alis dan bentuk wajah.

Seketika balita itu membalas pandangaannya, mendadak suasana menjadi hening. Mata Tobias memeriksa setiap senti meter tubuh balita itu. Ia melihat semuanya, tidak ada kecacatan sedikitpun terlihat, mata justru zoom in pada nya.

Okay, just breath Tobi, just breath.

Ia yakin alasan Raisa menghilang selama ini, karena wanita itu melahirkan? Semua tatapan teralihkan kepadanya, karena memang ia dan balita itu memiliki kemiripan.

Angel membalas tatapannya tanpa senyuman. Senyuman itu seperti seseorang yang tidak perlu dikasihani. Di mulai dari sini, semesta mempertemukan mereka yang telah lama hilang. Pantas saja ia tidak bisa tidur memikirkan ini, tanpa pikir panjang ia menatap Raisa, ia ingin mempertanyakan semua. Ia benar-benar hampir gila, pantas saja wanita itu bersembunyi selama ini, karena alasannya ini?

“Hai Angel,” sapa Tobias, ia pastikan kalau jantungnya tidak akan loncat keluar menyebut nama Angel.

“Om siapa? Temen mami?” Tanya Angel.

Tobias melirik Raisa yang hanya diam, Tobias lalu terseyum, ia berjongkok di hadapan gadis kecil itu. Dengan menatap wajahnya dari jarak dekat seperti ini, ia bisa melihat secara jelas wajah cantiknya. Ia ada foto masa kecil, jika ia perlihatkan maka Angel lah versi kecilnya. Wajah tidak bisa bohong, ia pekirakan umur Angel ini tiga tahun. Iya berpisah dengan Raisa empat tahun lamanya, lalu dipertemukan lagi saat ini.

“Iya, om teman mami,” ucap Tobias pelan, hatinya tiba-tiba sesak, entah kenapa air matanya seketika jatuh dengan sendirinya. Ia dengan cepat menepis air matanya, ia tidak tahu alasan Raisa menutupi ini semua darinya.

“Salam kenal Angel, saya Tobias.”

“Salam kenal juga, om Tobias,” ucap Angel tersenyum.

Beberapa detik terdiam, hatinya kembali sesak, bernafas saja rasanya sulit sekali, lihatlah dia tumbuh sempurna, ia ingin sekali berteriak menyebut nama Raisa, kenapa wanita tega sekali melakukan ini kepadanya.

“Boleh om peluk kamu?”

Angel melirik maminya, “Boleh ya mami.”

Raisa tidak bisa berbuat banyak, ia lalu mengangguk, “Iya.”

Tobias lalu memeluk tubuh Angel, gadis kecil itu ia bawa dalam dadanya. Ia percaya katan batin antara ayah dan anak itu kuat. Ia tidak bisa menutupi perasaanya, alam semesta juga tahu kalau mereka ini satu darah. Oh God, rasanya benar-benar ingin berteriak begitu saja. Ia merengkuh tubuh gadis kecil itu, tidak lupa diberikannya kecupan pada puncak kepala itu. Sungguh ia tidak rela gadis kecil itu memanggilnya om.

Bagaimana bisa Raisa menutupi semua ini darinya, kenapa dia tidak cerita sejak awal, kenapa dia menghilang meninggalkannya. Kenapa dia sangat tega melakukan ini untuknya. Kenapa dia tega memisahkan dirinya dengan putrinya.

Tobias melepaskan pelukannya, ia tersenyum pada Angel, “Senang bisa kenal dengan kamu Angel.”

“Sama-sama om Tobias.”

Raisa menutup wajah dengan kedua tangannya, ia benar-benar gila memikirkan ini semua, “Mbak itu sudah bell, bawa Angel masuk ke dalam,” ucap Raisa pelan.

“Baik bu.”

“Salam dulu buat om Tobias nya,” ucap mbak tersenyum pada pria itu.

“Angel masuk dulu ya om. Dah om,” ucap Angel melambaikan tangan ke arahnya.

Tobias membalas lambaian tangan itu, kini ia berhadapan dengan Raisa. Wanita ini harus menjelaskan semua kepadanya. Yang ia pikirkan saat ini, mereka harus bicara berdua, ia tidak ingin Raisa menutup-nutupi semuanya, apalagi ini tentang Angel.

“Kita perlu bicara berdua,” ucap Tobias melihat iris mata Raisa.

“Saya ada kerjaan pagi ini, saya buru-buru. Lebih baik lain kali saja.”

“Pilihannya hanya dua, mau secara baik-baik atau dengan paksa,” Tobias menggeram.

Raisa menahan debaran jantungnya, ia tahu Tobias seperti apa, dia sama sekali bukan tipe pria yang senang dibantah. Ia melihat kilatan tatapan tajam pada pria itu,

“Okey, kita ke café Aroma saja, letaknya di sana tidak jauh dari sini,” gumam Raisa, ia tahu semakin ia mengelak, semakin ia tidak bisa hidup tenang.

“Parkir mobil kamu di sana, sekarang move ke mobil saya.”

“Tidak bisa.”

“Apa yang tidak bisa? Apa perlu saya bawa ke sana?.”

Raisa menatap Tobias, “Saya bisa parkir sendiri.”

Tobias melihat Raisa masuk ke dalam mobilnya, dia memarkir mobilnya di plataran sekolah. Sementara Tobias memanuver mobil bergerak mendekati mobil Raisa. Mobil Raisa sudah terparkir sempurna, dan lalu wanita itu keluar.

Raisa menarik nafas, ia meremas tangannya agar bisa menguatkan hatinya. Sepertinya ia perlu obat penenang dari dokter agar hatinya tenang menjawab seribu pertanyaan dari Tobias.

“Masuk!”

Raisa lalu masuk ke dalam mobil pria itu, ia mendaratakan pntatnya di kursi, tidak lupa memasang sabuk pengaman. Ia memandang Tobias yang berada di sampingnya. Mobil itu lalu bergerak meninggalkan area sekolah, sepanjang perjalanan Raisa hanya bisa berdoa dalam hati, agar diberi ketenangan selama sesi tanya jawab nanti. Oh Jesus! Apa yang hharus ia lakukan.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel