Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 5

HAPPY READING

****

“Tobias,” ucap Raisa dalam hati.

Tobias tidak menyangka bahwa ia bertemu lagi dengan Raisa. Dulu dirinya dan Raisa pernah menjalin hubungan yang hanya diketahui oleh berdua. Saat itu mereka sedang patah hati, kebetulan Raisa baru putus dari Maikel sedangkan dirinya putus dari sang kekasih. Mereka dipertemukan saat malam itu, untuk menghilangkan rasa gundah mereka bersama. Kekonyolan itu mendapatkan perhatian dari mereka, entahlah sampai saat ini, ia tidak bisa melupakan bayang-bayang Raisa dalam hidupnya.

Jujur hingga saat ini ia tidak bisa melupakannya. Karena sampe sekarang ia masih ingat apa yang terjadi diantara mereka, semuanya masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Bagaimana mereka bisa kenal, sampai kebiasaan apa yang biasa mereka lakukan saat bersama. Pada dasarnya, ia tidak melupakan apapun tentang dia.

Mereka berpisah ketika ia mengharuskan pergi ke New York untuk melanjutkan hidup, dan melangkah lebih maju. Sedangkan Raisa berada di Jakarta, ketika di New York, ia pikir hubungan mereka berlanjut, namun nyatanya tidak begitu. Ia tidak bisa menghubunginya lagi setelah perpisahan mereka.

Tobias membuyarkan lamunannya, ia kembali fokus memperhatkkan Raisa. Rambutnya panjang bergelombang, mengenakan kemeja putih dan celana jins berwarna biru. Dia seperti biasa cantik seperti yang dulu, entah kenapa dia lebih fresh saat ini.

Apa yang harus ia lakukan saat ini bertemu Raisa saat ini? Jawabannya hanya satu, ia harus ikhlas, berhenti untuk denial dan menyalahkan diri kenapa mereka dipertemukan lagi. Ini sudah empat tahun berlalu bisa dikatakan sudah sangat lama. Andai ia tidak ke New York waktu itu, mungkin hubungan mereka akan berlanjut hingga saat ini. Ia tidak mungkin kembali kepadanya, karena ia sudah memiliki calon istri saat ini, ia juga tidak memaksakan seseorang yang tetap tinggal jika memang sudah tidak ingin.

Satu kata dalam pikirannnya saat ini, bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia sudah menikah? Mengingat bahwa Raisa sudah mengundurkan diri dari dunia entertaimen yang sudah membesarkan namanya sejak lama. Ia tidak tahu kenapa Raisa tidak lagi terjun lagi di sana, padahal karir nya sangat bagus. Ia tahu, pasti dia memiliki alasan tersendiri kenapa tidak lagi di dunia hiburan.

“Raisa ya?” Ucap Pevita seketika setelah mengamati wanita itu, siapa yang tidak kenal Raisa, dia penyanyi professional seperti Raisa, seluruh Indonesia mengenal dia dan karya-karyanya. Namun beberapa tahun belakangan ini dia tidak terdengar lagi. Padahal fans nya sangat banyak sangat disayangkan dia memilih mundur.

Raisa berusaha setenang mungkin, ia tersenyum, ia sungguh tidak menyangka kalau klien nya adalah Tobias dan Pevita.

“Iya, saya Raisa. Ternyata kamu kenal saya?”

“Ya kenal lah, siapa yang nggak kenal sama penyanyi Indonesia. Jadi kamu pengelola Big Exercise?” Tanya Pevita antusias.

Raisa tersenyum, “Iya. Saya pengelolanya saat ini.”

“Oh God, benar-benar nggak nyangka loh bisa bertemu lagi.”

Pevita lalu mengulurkan tangannya kepada wanita itu, “Senang berkenalan dengan kamu Raisa.”

“Sama-sama Pevita.”

“Jadi vakum dunia entertaimen, ternyata ngelola bisnis wedding organizer, keren banget loh ya,” sahut Pevita lagi.

Raisa tersenyum, “Saya yang tidak menyangka kalau klien saya itu Pevit, suatu kehormatan bagi saya bisa menggunakan jasa Big Exercise.”

Pevita tersenyum, ia melirik Tobias yang berada di sampingnya, “Oiya, kenalin ini Tobias calon suami saya. Kalian pasti udah kenalkan?”

Raisa tersenyum dan mengangguk, “Iya, siapa yang tidak kenal pak Tobias, salah satu pemilik stasiun TV swasta tanah air. Semua selebriti pasti mengenap pak Tobias dengan baik,” ucap Raisa.

Tobias menarik nafas, ia mengulurkan tangan kepada Raisa, “Senang bisa kerja sama dengan anda Raisa.”

Raisa menatap iris mata tajam itu sekilas, ia menelan ludah. Ia harus bersikap professional kepada klien nya, dan lalu menyambut uluran tangan pria itu. Ketika mereka berjabat tangan, seperti ada aliran listrik masuk ke dalam tubuhnya. Oh Tuhan, andai ia tahu kalau Pevita dan Tobias klien nya, mungkin ia akan menyuruh staff nya yang lain mengurus ini. Atau lebih nyamannya, ia mengoper ke WO lain dengan berbagai alasan, namun ia kemarin sudah terlanjur tanda tangan kontrak kerja sama dan DP sudah masuk dengan jumlah yang tidak sedikit,

“Sama-sama,” ucap Raisa, sedetik kemudian ia melepas jabatan tangannya dari tangan Tobias, ia berharap ia akan tenang selama fitting nanti.

Christie tersenyum berdiri di sampingnya, “Ibu Raisa ini sudah kerja sama kami sejak lama. Banyak klien meminta saran kepada ibu Raisa saat fitting, kebanyakan suka atas pilihan ibu Raisa.”

“Selera fashion ibu Riasa pasti bagus,” Pevita tertawa.

“Tapi tergantung klien lagi mau dikasih saran atau tidak. Ada beberapa klien butuh pertimbangan yang matang sampai deal.”

“Mari kita ke ruangan saya,” ucap Christie.

Mereka melangkah menuju ruangan Christie, ketika Pevita dan Tobias masuk disambut ruangan berwarna putih, ruangannya tampak luas, ada lemari yang isinya berbagai jenis kain dan benang sesuai dengan warna.

Ia melihat meja kerja, di atas meja kayu itu terdapat pensil warna warna dengan berbagai warna. Ada dua manekin berjejer memakai hasil rancangan, berdiri tegap tidak jauh dari mereka, dress-dress itu nya sangat cantik.

“Wedding gown itu punya siapa?” Tanya Pevita penasaran.

“Iya, itu punya klien nya ibu Raisa juga, sudah selesai siap dikirim weekend ini, akan dibawa ke hotel, di mana tempat pesta itu akan di laksanakan.”

“Cantik ya, elegan banget.”

“Iya.”

“Silahkan duduk,” ucap Christie mempersilahkan Tobias, Pevita dan Raisa duduk.

Tobias melirik Raisa, wanita itu berada tepat di sebelah Pevita, ia tidak tahu kenapa di dalam kepalanya terdapat banyak sekali pertanyaa yang akan ia tanyakan kepada wanita itu. Bagaimana kehidupannya sekarang? Apa sudah menikah? Siapa suaminya? Dia masih tinggal di apartemen atau tidak? Atau sudah pindah? Pindah ke mana? Namun pertanyaan itu masih ia tahan, tidak mungkin ia tanyakan di hadapan calon istrinya. Ia melihat jemarin Raisa, tidak ada cincin pernikahan tersemat di sana, itu tandanya dia masih belum menikah.

“Kemarin pihak ibu Riasa sudah konfirmasi kalau tema pernikahan ibu Pevita dan pak Tobias adalah classic, pilhan yang sangat bagus menurut saya. Kalau ibu pevita sendiri ingin wedding gown seperti apa?” tanya Christrie, ia mengambil pensil dan kertas agar bisa langsung di sketsa sesuai dengan permintaan klien.

“Saya ingin yang simple aja. Seperti A Line Dress, tapi tidak ingin terlalu banyak payet di bagian bawahnya. Kalau menurut ibu Raisa sendiri gaun pengantin seperti apa yang cocok untuk saya?” Tanya Pevita meminta pendapat Raisa.

Raisa menarik nafas, ia memandang Pevita secara keseluruhan, bentuk tubuh Pevita itu langsing, gaun pesta biasanya cocok dilengkapi korset dan bagian bawa yang sedikit kembang sesuai body. Pevita pasti cantik mengenakan column atau sheath dress.

“Menurut saya ibu Pevita cocok dengan gaun column/sheath, misalnya memiliki potongan yang sempit dan menekan semua lekuk tubuh dari atas ke bawah. Gaun seperti ini membuat ibu Pevita terlihat lebih jenjang jika tanpa lengan. Tidak perlu ada payet, fokus dengan gaun yang sederhana, simple namun tetap glamour di malam pesta pernikahan.”

Pevita lalu terbayang gambaran usulan dari Raisa, ia mengangguk paham, ia memang setuju dengan pilihan Raisa, ia teringat dengan strapless dress, dibagian bahu terekspose.

“Strapless dress.”

“Kira-kira seperti itu.”

“Pilihan ibu Raisa sepertinya cocok untuk saya.”

“Saya pikir juga begitu ibu Pevita,” ucap Christie.

Christie lalu mensketsa gaun untuk Pevita, dia membuat bentuk dress. Sementara Tobias memperhatikan Raisa wanita itu sama sekali tidak melihatnya. Ia kembali melihat hasil sketsa sang desainer, pakaian pengantin itu adalah hasil dari pemikiran Raisa, wanita itu memberi arahan seperti apa yang bagus untuk tubuh Pevita.

Setelah itu Christie memperlihatkan hasil desainnya. Ia menerima apapun menjjaadi keputusan Pevita.

“Seperti ini sketsanya,” ucap Christi setelah beberapa menit mereka menunggu rancangannya.

“Nice, aku suka,” ucap Pevita, ia benar-benar suka dengan hasil sketsa itu.

“Bagus nggak menurut kamu sayang?” Tanya Pevita meminta pendapat Tobias.

Tobias tersenyum dan mengangguk, “Iya, bagus, cocok untuk kamu sayang.”

“Oke, kita pakai ini saja,” Pevita lalu mengambil keputusan dengan cepat.

“Baik ibu Pevita, sekarang kita ukur badan ibu dulu,” ucap Christie.

Pevita dan Christie beranjak dari duduknya, kini di kursi hanya ada Raisa dan Tobias. Raisa merasakan nervous luar biasa, ia memilih diam, dan tidak mau bersuara, ia berusaha menenangkan debaran jantungnya yang sama sekali tidak bisa diajak kerja sama.

Raisa dan Tobias memandang Pevita dan Christi berada di sudut ruangan di dekat manekin. Chrisie dibantu oleh dua orang staff untuk mengukur tubuh Pevita secara keseluruhan.

Tobias menoleh memandang Raisa, “Apa kabar Ra?” itu lah pertanyaan pertama yang harus ia sapa pertama kali kepada wanita itu.

Raisa menoleh ke samping menatap Tobias setelah mendengar suara berat itu menanyakan kabarnya. Mereka saling berpandangan satu sama lain, lalu Raisa dengan cepat menoleh ke samping enggan menatap matanya.

“Baik.”

“Sudah lama kita tidak bertemu ya.”

Raisa mengangguk, “Iya, kita sudah lama.”

“Kamu ke mana saja?” Tanya Tobias.

Dadanya seketika sesak, bahkan menarik nafas saja rasanya sulit sekali, “Ada.”

“Ketika aku menginjakan kaki ke New York, nomor ponsel kamu tidak pernah aktif lagi. Kita langsung miss komunikasi. Bahkan ketika menanyakan Lia manager kamu yang dulu, kamu tidak mau dihubungi oleh siapapun termasuk saya. Why?”

Raisa menarik nafas, ia memberanikan diri menatap iris mata tajam Tobias, “Hanya ingin tenang saja,” gumam Raisa.

“Selamat ya, sebentar lagi kamu akan menikah.”

Wajah Tobias rasanya merah padam, entah kenapa ia merasa tidak suka dengan ucapan selamat dari Raisa, itu sangat mengganggu pikirannya. Dengan susah payah ia mengangguk,

“Terima kasih, kamu sudah menjadi wedding organizer saya. Kalau ada apa-apa nanti saya akan menghubungi kamu.”

Jantung Raisa lalu kembali berdegup kencang, ia tidak bisa membantah ucapan itu, ia juga tidak bisa berargumentasi lebih lanjut, karena pria itu ada klien nya, otomatis berhubungan langsung dengan dirinya. Yang ia takutkan adalah Tobias mengetahui keberadaan Angel. Ya, Angel putrinya satu-satunya, garis wajahnya tidak pernah bohong, bahwa lebih mirip Tobias dibanding dirinya. Namun beberapa orang belum menyadari, siapa ayah kandung Angel.

“Iya, silahkan saja. Saya siap direpotkan. Kalian klien saya.”

Tobias menyungging senyum, ia memperhatikan ekspresi Raisa yang enggan menatapnya, “Apa kamu sudah menikah?” Tanya Tobias.

“Kamu sepertinya tidak perlu tahu saya sudah menikah atau tidak. Itu bukan urusan kamu.”

Bibir Tobias terangkat, “Belum ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Tidak ada cincin pernikahan tersemat di jari kamu. Saya pikir kamu tidak tidak bisa dihubungi selama ini, karena kamu menikah.”

Raisa memilih diam, tidak menjawab pertanyaan pria itu,

“Sudah punya pasangan?”

Raisa menarik nafas beberapa detik, memberanikan diri menatap Tobias, “Rasanya tidak pantas calon suami orang yang sedang melakukan fitting, menanyakan seperti itu kepada wanita lain.”

“Saya sedang menanyakan kabar saja kepada wanita yang pernah dekat dengan saya empat tahun lalu. Apa kata-kata saya terlihat flirting?”

Tiba-tiba bibir Raisa kelu, ia memperoses semua kata-kata Tobias, ia menarik nafas,

“Kamu tenang saja, saya baik-baik saja tidak adanya kamu. Lebih baik sekarang kamu fokus dengan pernikahan kamu, jangan bertanya terlalu banyak tentang saya.”

Tobias tidak bertannya lagi lebih lanjut, ia lalu kembali berkonsentrasi kepada Pevita yang sudah datang menghampiri dirinya. Ia lalu berdiri,

“Sudah selesai?”

“Iya, sudah.”

“Untuk pemilihan bahan sultan nya, nanti lebih baik kita pergi bersama-sama saja.”

“Di mana?”

“Senayan City.”

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel