Chapter 1
Sudut pandang Anna.
Aku berlari di jalanan.
Lampu jalan satu per satu mati.
Aku berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi. aku mencoba untuk melarikan diri.
Namun tiba-tiba, aku berada di tepi tebing jurang.
Seseorang mendorongku dari tebing dan aku jatuh ke dalamnya.
Aku melihat ke sekeliling mencari seseorang untuk bisa membantuku, aku butuh bantuan tetapi tidak ada seorang pun di sini yang membantu ku.
# Dubhhh # Dubhhh
"Tiba-tiba saja tubuhku bertabrakan dengan permukaan yang sangat keras.”
Aku tersadar, aku berguling dari tempat tidurku dengan butiran keringat di dahi dan leherku. Aku terengah-engah dan aku bisa merasakan jantungku berdebar sangat kencang.
Untuk menenangkan diriku, Aku meminum segelas air dan mulai memikirkan mimpi yang baru saja aku alami.
Aku telah mengalami mimpi buruk yang berulang ini sejak hari dimana sahabat terdekatku Ria meninggal dunia.
Ria adalah teman masa kecilku. Kami berbagi segalanya, dan tidak ada rahasia diantara kami.
Kami sering menginap dan bersenang-senang bersama. bahkan kami mendaftar ke universitas yang sama untuk mendapatkan gelar sarjana kami, dan kami berdua diterima. Kami seharusnya mulai menghadiri kelas di perguruan tinggi yang sama dalam waktu satu bulan lagi.
Tapi tiba-tiba saja Ria meninggalkanku untuk selamanya.
Ria ditemukan bunuh diri, tapi aku masih tidak tahu apa sebab sampai Ria melakukan tindak bunuh diri.
Ria sangat kuat, kaya, dan sangat cerdas.
Pikiranku tiba-tiba saja terganggu oleh dering melengking dari ponselku. Aku melihat sebuah nomor berkedip di layar ponselku. Ini nomor telepon rumah Ria. Aku segera menjawab panggilan itu.
Untuk sesaat, aku pikir itu Ria di ujung telepon. Kemudian aku teringat betapa mustahilnya itu karena sudah tidak ada lagi.
Aku mencoba menahan air mataku saat menjawab panggilan itu.
Aku : "Halo ?"
Mark : "Apakah ini Anna ?"
Aku : "Ya. Siapa ini ?"
Mark : "Ini Mark, saudara Ria."
( Angin dingin tiba-tiba menembus tulang punggungku karena nada marah dari suaranya. )
Mark : "Apakah kau di sana ?"
Aku : "Ya, Tuan Mark."
Mark : "Jangan berani-berani kau memanggil namaku.”
( Aku merasa takut saat mendengar nada marahnya kali ini. )
Aku : "Maaf, Tuan...”
Mark : "Aku menemukan surat catatan dari Ria yang ditujukan untukmu."
Aku : "Apa ?"
Mark : "Ya. Kau akan membayar untuk ini. Datanglah ke rumahku dan ambil surat ini sendiri.”
Aku : "Baik, Tuan. Aku akan kesana secepat mungkin." Pikiranku masih kaget dari panggilannya dan nada suaranya.
Dia menutup panggilannya.
Mark adalah kakak laki-laki Ria yang sangat tampan. Usianya 26 tahun.
Dua tahun lalu, dia harus mengambil alih seluruh bisnis keluarganya setelah orang tua mereka mengalami kecelakaan mobil yang merenggut nyawa mereka berdua. Dia bekerja tanpa lelah dan menjadi pengusaha terbaik dengan sangat cepat.
Aku tidak pernah benar-benar berbicara dengannya, tetapi aku ingat dia selalu membawakan coklat untuk Ria dan Ria akan selalu berbagi padaku.
Aku segera memanggil taksi setelah panggilan telepon dari Mark, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan Ria dan kenangan ketika kami bersama. Aku tidak bisa menahan air mata yang keluar dari mataku karena aku tidak akan pernah melihat sahabat ku lagi selamanya dalam hidupku.
Dia meninggalkanku sendirian, rencana yang kami buat berdua untuk masa depan telah hilang bersama dengan kematiannya.
Aku mengingat percakapanku di telepon dengan Mark. Dia bilang, ‘Kau akan membayar untuk ini’ Apa maksudnya?
Dan tentang surat itu, Sangat menyedihkan jika Ria menyebutkan sesuatu tentang misteri bunuh dirinya.
Taksi tiba-tiba berhenti di depan rumah Ria. Setelah membayar ongkos taksi, aku benar-benar datang ke rumah Ria. Rumah yang sangat megah sungguh seperti istana. aku masuk ke dalam aula dan lemas ketika aku melihat tugu peringatan kecil dengan foto Ria didalamnya dan beberapa bunga yang mengelilinginya.
Ada beberapa tamu di rumah, mereka menghadiri peringatan kematian Ria. Para pelayan sedang menyajikan minuman dan makanan ringan. Salah satu pelayan mendekati ku. Aku menyadari itu adalah pelayan yang Ria dan aku suka bicarakan ‘Nany.’
"Tuan sedang menunggumu di kamar Nona Ria." katanya.
Aku mencoba bertanya padanya apakah dia tahu alasan Mark memanggilku tapi dia mengabaikan pertanyaanku, dia menunjuk ke arah kamar Ria, dan kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Aku berdiri dan menghapus air mataku, mencoba mengendalikan emosiku. Aku naik ke atas ke arah kamar Ria, masuk ke kamarnya dan berjalan ke tengah dekat tempat tidurnya.
Aku berdiri di samping tempat tidurnya, melihat foto kami berdua di meja samping tempat tidurnya. Aku maju selangkah untuk menyentuh wajah Ria di dalam foto itu, lalu tiba-tiba seseorang menarikku dari belakang dan mencengkeram rambutku erat-erat.
Aku berteriak kesakitan.
"Kau siapa ? Tinggalkan aku sendiri !!"
Aku tidak dapat menggerakkan wajahku, tapi aku bisa merasakan orang yang menyerangku adalah seorang pria yang sangat tinggi dan berotot. Dia telah membuatku terjepit ke dinding dengan paksa, dan masih mencengkeram rambutku dengan erat sambil menatapku.
Mataku berlinang air mata dan aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Aku mulai menangis dan menangis dengan keras sambil mencoba untuk menghapus air mata dengan salah satu tanganku, tetapi sebelum aku dapat menggerakkan tanganku, pria itu meraih pergelangan tanganku dan menjepitnya ke dinding dengan tangannya.
Mutiara yang terukir di gelang ku menusuk ke dalam kulitku tempat di mana tangannya memegang pergelangan tanganku dengan kuat.
Tubuhku begitu dekat dengan jantungnya sehingga aku bisa mendengar dengan jelas setiap detak jantungnya yang sedang berdebar sangat kencang, dan dadaku hampir menyentuh tubuhnya. Semua ini terjadi hanya dalam sepersekian detik.
Aku mengangkat wajahku untuk melihat siapa yang membuatku terjepit ke arah dinding dengan kekuatan seperti itu.
Itu Mark.
Matanya memerah seperti api hingga dia bisa membakar tubuhku menjadi abu saat ini. Dia terengah-engah dan dengan gigi terkatup. dia berkata.
"Jangan berani-berani kau menyentuh foto adikku. Kalau kau melakukannya lagi, aku akan membunuhmu.”
Sambil menangis dengan keras, aku menjerit.
"dia … dia sahabatku, sahabat ku satu-satunya !!" Aku tergagap sedikit.
Mendengar ini, Mark mencemooh dan berteriak padaku dengan marah.
Mark: "Teman ?! Kaulah alasan dia pergi !"
Aku: "Kau salah. Mengapa aku membiarkan sahabat ku mati dan meninggalkan aku sendirian ? Aku bahkan tidak tahu alasan mengapa dia bunuh diri."
Aku mencoba meyakinkannya, dia segera melonggarkan cengkeramannya pada rambutku, tanganku, dan seluruh tubuhku. Aku jatuh lemas ke bawah lantai. Lalu dia melempar laporan otopsi ke arahku, dan laporan itu jatuh ke lantai di hadapanku.
Aku membaca laporan itu dengan kaget karena mereka menyatakan bahwa tubuh Ria menunjukkan tanda-tanda pemerkosaan bergilir.
Aku memeriksa informasi di laporan itu :
Nama : Ria
Umur : 19 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Aku mengangkat kepala untuk melihat ke arah Mark. Aku menatapnya dengan kaget dan bertanya padanya.
"siapa yang melakukan ini padanya ?"
Dia melempar amplop ke arahku. Surat itu ditujukan kepadaku, aku mulai membacanya.
"Dear Anna," di bagian atasnya.
Aku mencoba duduk dengan tegak untuk fokus pada isi surat itu.